Software Engineer's Notes
Keresahan di Era AI
Perspektif seorang software engineer yang menolak berhenti berpikir
--
Saya merasa tiba-tiba saja kita berada di tengah lautan luas: pokoknya tiba-tiba saja sudah di tengah laut. Tidak peduli apakah kita bisa berenang atau tidak, punya pengalaman atau nol, tiba-tiba saja kita sudah dikelilingi monster laut yang belum teridentifikasi. Kita mustahil menghindari gelombang ini; justru harus mencari cara agar bisa bertahan.
# 1
Banyak orang masih membayangkan robot harus berbentuk manusia. Robot supir duduk di kursi kemudi. Robot koki mondar-mandir di dapur. Padahal yang menggantikan supir bukan robot berpakaian sopir, tapi mobil yang menyetir sendiri. Yang menggantikan koki pizza bukan robot humanoid, tapi mesin yang mencetak pizza sebagai unit produksi terintegrasi.
Keresahan di Level Society
Switch Career: Ironi Struktural
Orang tertarik masuk IT justru karena AI membuat segalanya terlihat mudah. Barrier to entry turun drastis. Tapi kemudahan yang sama itulah yang membuat posisi mereka rapuh begitu masuk. Kalau satu-satunya alasan kamu bisa menghasilkan sesuatu adalah karena AI yang mengerjakannya, maka kamu bukan siapa-siapa di persamaan itu.
Dulu, jarak antara "ingin" dan "jadi" diisi oleh komitmen tahunan. Belajar programming, memahami arsitektur, debugging, deployment. Jarak itulah yang membuat skill bernilai tinggi. AI memampatkan jarak itu sampai orang mulai bertanya: apakah jarak yang tersisa masih cukup untuk menjustifikasi keberadaan seseorang?
Ini tentang keresahan, bagaimana bertahan
... atau menyerang!